Google Rayakan Ulang Tahun ke-112 Novelis Wanita Pertama Indonesia, Ini Karya nya

  • Bagikan
Google Rayakan Ulang Tahun ke-112 Novelis Wanita Pertama Indonesia, Ini Karya nya

Google mendedikasikan doodle artistik untuk merayakan ulang tahun ke-112 penulis Indonesia Sariamin Ismail, yang secara luas dianggap sebagai wanita pertama di negara ini yang menerbitkan novel. Doodle diilustrasikan oleh artis tamu Indonesia Ayang Cempaka.

Sariamin Ismail lahir pada 31 Juli 1990 di Talu, Sumatera Barat, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Dia bersekolah di sekolah dasar di sana dan, pada usia sepuluh tahun, mulai menulis syair dan bentuk puisi lainnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1921, ia belajar di sekolah guru wanita di Padang Panjang.

Pada usia enam belas tahun ia mulai merambah dunia puisi dan tulisannya dimuat di beberapa surat kabar lokal seperti Pandji Poestaka. Sariamin Ismail menjadi guru setelah lulus dari sekolah putri pada tahun 1925, pertama bekerja di Bengkulu kemudian Bukittinggi. Ia kembali ke Pandang Panjang pada tahun 1930 dan pada tahun 1939 mulai mengajar di Aceh, dikirim ke Kuantan, Riau, pada tahun 1941. Ia melanjutkan tulisannya selama beberapa dekade berikutnya.

Sariamin Ismail adalah seorang penulis aktif pada saat suara perempuan Indonesia disensor dan menggunakan banyak nama samaran untuk menghindari penganiayaan dari otoritas lokal. Antara tahun 1928 dan 1930 Sariamin adalah ketua Jong Islamieten Bond cabang Bukittinggi, sebuah kelompok pemuda Islam.

Pada 1930-an Ismail telah menjadi jurnalis vokal di Soeara Kaoem Iboe Soematra yang dikelola perempuan dengan nama Seleguri, mengutuk poligami dan menekankan perlunya keluarga inti.

Berdasarkan pengalaman kehidupan nyata tentang romansa yang serba salah, novel pertama Ismail—”Kalau Tak Untung”—dirilis dengan nama samaran Selaish pada tahun 1933, dan mencatat sejarah sebagai novel pertama yang ditulis oleh seorang wanita dalam sejarah Indonesia. . Buku berani ini mencontohkan penolakan terhadap tradisi Indonesia yang dianut secara luas seperti perjodohan, sebuah gagasan kontroversial yang menjadi ciri karyanya sepanjang kariernya.

Pada tahun 1937, Ismail mulai menerbitkan cerita di “Soeara Kaoem Iboe Soematra,” sebuah majalah wanita lokal yang mempromosikan nilai-nilai keluarga inti yang kontras dengan konvensi hubungan saat itu. Dia mengajar hingga akhir 60-an dan menulis hingga pertengahan 90-an dan meninggalkan banyak antologi puisi, novel, dan bahkan dua cerita anak-anak. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, Sariamin menghabiskan dua tahun sebagai anggota badan perwakilan daerah di Riau.

Daftar karya Sariamin Ismail:

Kalau Tak Untung (1933)

Pengaruh Keadaan (1937)

Puisi Baru (1946; antologi puisi)

Rangkaian Sastra (1952)

Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; kumpulan puisi)

Panca Juara (1981)

Nakhoda Lancang (1982)

Cerita Kak Murai, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986)

Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (1990)

Terima kasih Sariamin Ismail telah menginspirasi generasi baru perempuan untuk menggunakan suara mereka.

  • Bagikan