Diprediksi Harga HP dan Laptop Naik Karna Kelangkaan Chip Ini

  • Bagikan
Diprediksi Harga HP dan Laptop Naik

Nurnajma.com – Produsen semikonduktor akan mengalami kekurangan pasokan setidaknya hingga 2023 mendatang. Kurangnya pasokan dari para produsen ini karena tak imbangnya antara supply dan demand yang ada di industri.

Dilansir dari CNBC International, Kamis (13/5/2021), disebutkan bahwa masalah ini belum akan menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan sebagian ada yang menyebut kondisi ini sebagai ‘chipageddon’.

Wakil Presiden Direktur riset di firma penasihat Forrester Glenn O’Donnell mengatakan kekurangan itu bisa berlangsung hingga 2023.

“Karena permintaan akan tetap tinggi dan pasokan akan tetap dibatasi, kami perkirakan kekurangan ini akan bertahan hingga tahun 2022 hingga 2023,” tulisnya, dikutip Kamis (13/5/2021).

Dia memperkirakan permintaan untuk komputer PC, yang berisi beberapa chip paling canggih akan turun tahun depan meski tidak terlalu besar.

Sementara itu, dia memperkirakan data center yang dipenuhi server komputer akan melakukan pembelian chip lebih banyak tahun depan.

CIO Plurimi Investment Managers Patrick Armstrong mengatakan kekurangan chip akan berlangsung selama 18 bulan.

“Ini bukan hanya otomotif. Ini ponsel. Itu adalah internet dari segalanya. Ada begitu banyak barang sekarang yang membutuhkan lebih banyak chip daripada yang pernah mereka lakukan di masa lalu,” kata dia.

Selain itu, industri mobil juga saat ini mulai terpengaruh kekurangan chip global, bahkan lebih dari sektor lainnya.

Produsen chip terbesar dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memperkirakan awal bulan ini perusahaan akan dapat mengejar permintaan otomotif pada bulan Juni. Namun Armstrong menyebut target ini terlalu ambisius.

“Jika Anda mendengarkan Ford, BMW, Volkswagen, mereka semua menyoroti bahwa ada hambatan dalam kapasitas dan mereka tidak bisa mendapatkan chip yang mereka butuhkan untuk memproduksi mobil baru,” kata dia.

Dalam kesempatan terpisah, Gartner mengatakan kekurangan akan berlanjut sepanjang 2021 dan akan berdampak pada semua jenis chip dan harga chip meningkat.

Analis Gartner Alan Priestley mengatakan situasi mungkin membaik untuk beberapa sektor dalam enam bulan ke depan, tetapi mungkin ada efek tambahan hingga 2022.

“Seharusnya tidak lebih lama lagi. Industri ini menerapkan lebih banyak kapasitas, tetapi itu membutuhkan waktu,” terangnya.

Adapun Intel telah mengumumkan pada Maret lalu bahwa mereka menganggarkan US$ 20 miliar untuk dua pabrik chip baru di Arizona. Intel juga mengatakan bisa membangun pabrik di Eropa jika mendapat pendanaan publik.

“Hal itu akan memakan waktu dua atau tiga tahun sebelum kita mulai melihatnya. Tapi itu benar-benar akan memenuhi permintaan di masa depan,” katanya.

Sementara itu, kepala eksekutif pembuat chip Jerman Infineon Reinhard Ploss mengatakan bahwa industri semikonduktor berada di wilayah yang belum dipetakan.

Dia mengatakan sangat jelas hal ini akan memakan waktu hingga penawaran dan permintaan diseimbangkan kembali.

“Saya pikir dua tahun terlalu lama, tapi kita pasti akan melihatnya mencapai 2022. Saya pikir kapasitas tambahan akan datang … Saya mengharapkan situasi yang lebih seimbang di tahun kalender berikutnya,” jelasnya.

Wenzhe Zhao, direktur ekonomi dan strategi global di Credit Suisse mengatakan kekurangan chip baru-baru ini telah mendorong penimbunan persediaan di sepanjang rantai produksi chip, memperlebar kesenjangan antara permintaan yang meningkat dan pasokan yang stagnan.

Zhao mengatakan bahwa kapasitas produksi semikonduktor baru tidak akan online hingga tahun 2022 atau setelahnya. Hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan saat ini selain menyesuaikan buku pesanan, jadwal produksi, dan harga.

Sumber: cnbcindonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *