Mengetahui Arti Silent Treatment Dalam Percintaan

  • Bagikan
Mengetahui Arti Silent Treatment Dalam Percintaan

Ada banyak gaya bertengkar pasangan, tetapi yang cukup sering dilakukan oleh perempuan adalah mendiamkan atau mengabaikan pasangan selama beberapa waktu. Kondisi itu disebut juga dengan “silent treatment“.

Walau terkadang menahan diri berkomentar saat hati sedang diliputi rasa marah adalah jalan terbaik, tetapi silent treatment sebenarnya bukan solusi untuk mengatasi konflik.

Jika kita pernah mendapat perlakuan tersebut tentu akan membuat frustasi dan bingung. Para pakar bahkan menyebut silent treatment termasuk dalam kekerasan emosional.

Psikolog Rashi Laskari mengatakan penolakan untuk melakukan komunikasi verbal merupakan bentuk kontrol pasif agresif.

“Selama pandemi ketergantungan emosi kita pada pasangan lebih tinggi sehingga perilaku mendiamkan ini memiliki efek lebih besar,” katanya seperti dikutip dari Times of India.

Jika kamu sedang “dihukum” oleh pasangan dengan silent treatment, Laskari memberikan tips untuk menghadapinya:

  1. Kenali apakah ini karena keterampilan komunikasi yang buruk

Salah satu atau kedua pasangan mungkin kurang memiliki keterampilan dasar untuk mengekspresikan emosi/pikiran. Biarkan pasangan belajar untuk mengungkapkan perasaanya. Berikan ia ruang untuk memproses perasaannya.

  1. Jangan mencoba jadi pembaca pikiran

Hindari mencoba mencari tahu apa yang mungkin dipikirkan pasangan. Dengan melakukan ini, sama saja kita mendukung pasangan untuk tidak mengekspresikan perasaannya.

  1. Berempati

Jangan langsung meminta maaf hanya untuk mengembalikan keadaan kembali normal. Ini hanya akan memperkuat pola tanpa ada upaya mengatasi masalah yang mendasarinya.

Sebaliknya, cobalah berempati tentang bagaimana perasaan yang dirasakannya. Lalu diskusikan masalah yang ada untuk menjembatani kesalahpahaman.

  1. Ajukan solusi

Jika pasangan telah menutup diri, kita dapat memulai percakapan dengan mengakui atau membahas mengenai emosi si dia, mendiskusikan emosi kita dan memberikan solusi.

  1. Membangun kepercayaan

Setelah komunikasi terjalin kembali, kita bisa mencoba untuk membangun kepercayaan dengan menjadi pendengar yang baik. Pahami dia lebih banyak dan usahakan lebih sedikit berdebat.

Kita bisa menetapkan aturan dasar, karena ini bisa membantu menciptakan cara alternatif untuk mengelola konflik di masa yang akan datang.

  1. Datang ke ahli

Dengan menghubungi psikolog/konselor perkawinan dapat membantu pasangan untuk lebih mampu mengkomunikasikan dirinya sendiri dan mengelola konflik dalam hubungan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Saat Bertengkar dengan Pasangan Hindari “Silent Treatment”
Penulis : Intan Pitaloka
Editor : Lusia Kus Anna

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *