Mana yang Lebih Baik Pendanaanya Antara Bitcoin dan Dogecoin?

  • Bagikan

Nurnajma.com – Harga dogecoin mencetak rekor baru pada perdagangan Sabtu (8/5/2021) di harga 0,74 dollar AS atau sekitar Rp 10.730 per kepin (kurs Rp 14.500).

Dengan demikian, harga dogecoin sejak awal tahun telah melonjak lebih dari 14.000 persen. Sementara bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga dogecoin telah melesat lebih dari 27.000 persen.

Dogecoin telah menjadi salah satu aset kripto yang cukup populer belakangan, beriringan dengan bitcoin yang harganya sempat menyentuh rekor tertinggi di 63.000 dollar AS bulan lalu.

Banyak pihak yang mulai membandingkan kedua mata uang kripto tersebut. Namun perlu ditegaskan, keduanya memiliki beberapa perbedaan yang mendasar. Adapun berikut perbedaan dogecoin dan bitcoin seperti dilansir dari CNBC

Baca Juga: Apa itu Blockchain? Bagaimana Cara Kerjanya?

Lalu Apa saja Perbedaan Dogecoin dan Bitcoin?

1. Bitcoin memiliki kelangkaan

“Terdapat banyak perbedaan antara dogecoin dan bitcoin,” ujar Chief Strategy Officer Coinshares Meltem Demirors. Perbedaan dogecoin dan bitcoin yang paling terlihat yakni ketersediaan dari masing-masing mata uang kripto tersebut.

Dogecoin ketersediaannya tidak terbatas. Artinya, ia bisa saja diterbitkan setiap menit setiap harinya. “Misal, setiap hari setiap menit, sebanyak 10.000 dogecoin diterbitkan. Artinya, ada 15 juta doge baru yang beredar setiap hari, atau mencapai 5 miliar dalam setahun,” ujar dia.

Ketidakterbatasan tersebut bisa memberikan dampak negatif terhadap nilai aset kripto tersebut dalam jangka waktu tertentu. Bitcoin di sisi lain, memiliki ketersediaan yang tebatas sebanyak 21 juta koin.

Kelangkaan tersebut menjadi alasan utama bitcoin cocok dipegang oleh investor dalam jangka panjang. Sebab ia langka, permintaan meningkat, maka harganya juga akan terdorong naik.

“Karena perbedaan itu, saya melihat orang trading dogecoin dalam jangka pendek. Investor berharap bisa mencetak untung secara cepat. Di sisi lain, mereka memilih bitcoin untuk jangka panjang,” ujar Demirors.

2. Dogecoin tidak diciptakan dengan serius

Perbedaan dogecoin dan bitcoin lainnya yakni alasan dari masing-masing aset kripto tersebut dibentuk. Bitcoin diluncurkan pada tahun 2009 dengan sangat detil oleh Satoshi Nakamoto, nama samaran dari pencipta mata uang kripto tersebut.

Tujuan Nakamoto menciptakan bitcoin yakni agar aset kripto tersebut bisa menjadi mata uang digital terdesentralisasi yang menonjol. Para pendukung bitcoin pun melihat mata uang kripto tersebut sebagai aset layaknya emas dan sebagai salah satu alat lindung nilai terhadap inflasi.

Setelah 12 tahun diciptakan, kepercayaan terhadap bitcoin pun terus meningkat, terutama dari kalangan investor institusional. Hal itulah yang mendorong harga bitcoin mencetak rekor tertinggi tahun ini.

Baca Juga: Mengenal Sejarah dan Fungsi Bitcoin hingga bisa Beli Barang Mewah

Di sisi lain, dogecoin diciptakan sebagai lelucon oleh pengembang perangkat lunak Billy Markus dan Jackson Palmer tahun 2013. Dengan didasarkan pada meme anjing Shiba Inu, keduanya tak membuat dogecoin sebagai aset kripto yang serius.

“Ini diciptakan untuk orang-orang konyol. Saya membuatnya tanpa harapan atau rencana apapun. Hanya butuh waktu tiga jam untuk menciptakan (dogecoin),” ujar Markus dalam sebuah unggahan di Reddit.

Karena itu, pengembangan teknis dogecoin cenderung lemah dan sistemnya pun tak seaman bitcoin. Meski demikian, baik bitcoin dan dogecoin kerap dipandang sebagai investasi dengan risiko tinggi. Sebab, ada kecenderungan harga mata uang kripto tidak stabil.

3. Distribusi Bitcoin Cenderung Lebih Merata

Meski dalam beberapa tahun terakhir dogecoin dikembangkan oleh komunitas yang mengopi kode yang sama dengan software bitcoin, namun bitcoin cenderung memiliki ekosistem pendaan yang baik.

Hal itu tak dimiliki oleh dogecoin. “Bitcoin (pengembangannya) dipikirkan dengan baik, terdistribusikan dengan baik dan bertahan selama 12 tahun.

Sementara dogecoin, sebanyak dua orang memiliki 30 persen dari keseluruhan persediaan yang ada,” ujar CEO Galaxy Digital dan investor aset kripto ternama Mike Novogratz.

Baca Juga: Daftar Investasi Ilegal yang Harus Anda Ketahui, Salah satunya Platform Berikut Ini

Dengan kondisi tersebut dikhawatirkan, bila antusiasme terhadap aset kripto yang bermula dari meme tersebut mulai redup, tidak ada perkembangan terhadap teknologinya, dan tidak ada investor institusi yang berminat terhadap dogecoin.

“Saya pikir hal itu berbahaya. Sebab, bila (sistemnya) mati, Anda bisa mengalami penurunan yang panjang. Tapi saya tidak ingin mendiskreditkan,” jelas Novogratz.

Sumber: CNBC

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *